Cerpen
Salah
Untuk Benar
(oleh: Devi Nurdianti X-MIPA 4)
Matahari
mulai menampakan diri dari ufuk timur. Para pedagang di pasar Gembyong sudah
siap menjajakan daganganya di lapak masing-masing. Begitu juga pak Isman penjual kue dodol yang sedari tadi telah menata
dodol-dodolnya di atas meja kecil di sebuah lapak yang tak sebesar milik pedagang lain. Pak Isman
hanya mampu menyewa lapak sederhana ,itupun
masih sulit untuk membayar karena biaya sewa tak sebanding dengan keuntungan
yang ia peroleh.
Pasar
yang tadinya hening kini terdengar riuh
dengan kehadiran para pembeli yang sibuk mencari barang yang hendak dibelinya.
“mari
bu! Sayurannya masih seger!” teriak seorang pedagang sayur.
“Dipilih!
Dipilih! Dipilih!, ikan bandeng, ikan bawal, ikan lele semua ada, ayo dipilih”
teriak seorang pedagang ikan dari kejauhan. Seperti tak mau kalah seorang
penjual gorenganpun juga ikut berseru “gorengan-gorengan, cuma lima ratus perak
masih hangat, gorengan gorengan!”.
Teriakan
demi teriakan saling bersahutan. Begitulah yang biasa terjadi setiap harinya.
Pak Isman akhirnya mulai membuka mulut saat beberapa orang melewati meja
kecilnya “dodol..dodol.., dodolnya bu !” hanya gelengan kepala yang ia terima,
namun itu tak mematahkan semangat pak Isman untuk terus menawarkan kue-kuenya
kepada setiap orang yang lalu lalang.
Matahari mulai merangkak naik,
cahayanya semakin terang bersinar. Kue dodol pak Isman kini tinggal beberapa
biji saja. “Alhamdulillah… lumayan” kata pak Isman sambil tersenyum, jari
jemarinya menari menggelitiki lembaran rupiah hasil jerih payahnya pagi ini.
Tiba-tiba saja ‘Brrrrak..!!’ suara
gubrakan meja nyaring terdengar hingga mengagetkan lelaki yang sedari tadi
berdiri didekat meja kecil. Tiga orang laki-laki berperawakan tinggi gagah
berdiri di hadapan pak Isman “mana jatah hari ini” suara menggelegar nan
lantang keluar dari mulut salah seorang
dari mereka sembari menengadahkan telapak tangannya dan mengayun-ayunkan
keempat jarinya, memberi isyarat supaya pak Isman segera memberinya uang pajak.
Ya, mereka adalah pemungut pajak liar atau biasa dikenal sebagai preman pasar.
Sebenarnya para pedagang di pasar Gembyong enggan memberi mereka uang, namun
apa daya. Jika tak memenuhi permintaan mereka, preman pasar itu nekat mengobrak abrik semua dagangan yang ada
dihadapannya. Pak Isman sontak memberikan preman pasar itu dengan dua lembaran
rupiah berwarna coklat, ia tak mau kejadian yang lalu-lalu terulang kembali .
Selang beberapa menit kemudian terlihat
seorang lelaki mengenakan jaket kulit berwarna hitam dari kejauhan.
Lelaki itu terus melangkahkan kakinya dengan
calm. Jika dilihat dari penampilannya, dia tampak seperti rentenir. Dugaan itu
semakin kuat saat tiga pria bertato berjalan
mengiringi langkahnya. Gayanya sudah seperti tokoh Genji di film crows zero.
Orang itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan lapak kue milik pak Isman
diikuti dengan tiga pria dibelakangnya. Ternyata benar, orang itu rentenir
bersama anak buahnya yang hendak menagih hutang pak Isman. Pak Isman sudah terlilit hutang
sejak lima bulan terakhir. Ia terpaksa berhutang kepada rentenir karena ia
benar-benar butuh uang untuk membeli sesuatu, tak ada cara yang bisa pak Isman
lakukan selain meminjam uang kepada rentenir.
”
Maaf mas, saya belum ada duit.” kata pak Isman sambil menundukan kepala. Tidak
bermaksud untuk berbohong, namun uang hasil jualanya hari ini akan ia gunakan
untuk menafkahi anak istrinya di rumah dan juga untuk modal dagangnya besok.
“apa?
Saya udah kasih kamu waktu satu minggu. Tapi mana, masih belum ada duit?”
Rentenir itu memaki pak Isman sambil mendorong tubuhnya ke belakang, sontak
tubuh kurus pak Isman tersungkur ke lantai pasar yang becek sehabis diguyur
hujan semalam. Semua mata tersorot kearah percecokan itu, namun tak ada satupun
orang yang berani mendekati pak Isman kecuali pemuda yang satu ini. Seorang
tukang parkir muda berlari ke arah kejadian itu denganbersungut-sungut, namun
dirinya pun tak berani membuka mulut.
“oke
kalau gitu, saya beri waktu kamu satu minggu lagi untuk bayar tapi kalau masih
belum ada duit juga bunga kamu saya tambah jadi dua kali lipat” ucap sang
rentenir sambil berjalan meninggalkan pak Isman dan tukang parkir itu. seperti
belum puas, anak buah sang rentenir menendang meja tempat pak Isman menaruh
dagangannya , sontak saja beberapa biji dodol yang masih tersisa di meja berjatuhan
ke lantai pasar yang becek.
“ayo
pak kita pulang saja!” ajak Arman, tukang parkir muda sembari membantu pak
Isman berdiri.
Sepanjang
perjalanan pulang Arman dan pak Isman hanya saling diam, keduanya enggan untuk
memulai percakapan. Arman tidak ingin melihat pak Isman larut dalam kesedihan
setelah kejadian tadi, Arman pun mulai mencari akal untuk memecahkan keheningan
diantara mereka. Matanya menyapu seisi ruas jalan yang dilaluinya. “emm…pak, katanya
nasi uduk di warung sana enak. Nanti kita mampir dulu ya” jari telunjuknya
menunjuk ke arah sebuah warung kecil di ujung jalan. Sebuah basa basi yang
diucapkan Arman membuyarkan lamunan lelaki paruhbaya di sampingnya. “e..boleh boleh,”
jawab pak Isman sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
***
Hari
silih berganti, hari ini sedikit berbeda dengan hari kemarin pasalnya tak
satupun preman pasar yang menagih pajak harian, mungkin saja mereka masih
terlalap tidur sehabis menenggak beberapa botol minuman keras tadi malam. Itu
juga bagian dari pekerjaan mereka. Dua lembaran rupiah coklat milik pak Isman
kini aman. Suasana ramai di pasar Gembyong semakin terdengar riuh ketika
seorang wanita tua berteriak minta tolong dari ujung lorong pasar. Tak berapa
lama kemudian suara teriakan itu berganti dengan suara pukulan ‘bukk..bukk..bukk’ suara itu terdengar
semakin jelas dari lapak milik pak
Isman. Pak Isman yang terduduk santai didekat meja dagangnya seketika berdiri
dan menoleh ke arah suara itu. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke
kerumunan masa yang ternyata sedang
menghakimi seorang copet. Pak Isman menjinjitkat kakinya, kepalanya tolah toleh
karena pandangannya terhalang oleh beberapa orang di depannya. Ia hanya
penasaran ingin melihat kejadian itu dengan jelas.
“sudah
sudah mending kita bawa pencopet ini ke kantor polisi saja” lerai si pedagang
sayur sembari merentangkan kedua tangannya agar tidak ada masa yang memukul
pencopet itu lagi. “ya betul!” seru pak Isman dari belakang kerumunan. Seketika
kepalan-kepalan tangan yang menghantam tubuh pencopet itu terhenti. Kemudian
pedagang sayur dan salah seorang masa membangunkan pencopet yang sudah
tersungkur tak berdaya itu. Saat pedagang sayur itu hendak melepas topi merah
yang dikenakan oleh si pencopet, semua mata langsung tertuju pada pencopet itu,
mereka sangat penasaran. Pencopet itu berusaha menahan topinya supaya mukanya
tak dikenali publik. Namun seorang wanita paruhbaya sudah tidak bisa lagi
menahan rasa penasarannya, ia melepas topi itu dengan paksa. Sontak semua mata terbelalak
dengan ekspresi terkejut. Tak di sangka wajah Arman muncul dari balik topi merah
itu, tukang parkir muda yang terkenal baik dan ramah di lingkungan pasar Gembyong.
Meskipun begitu hukum harus ditegakkan, apalagi wanita tua yang baru saja dicopet
terus menuntut Arman supaya ia di bawa ke kantor polisi. Arman hanya menundukan
kepala menahan rasa malu atas perbuatanya. Begitu juga perasaan bapaknya yang
hancur berantakan setelah melihat runtutan kejadian itu dengan mata kepalanya
sendiri. Pak Isman masih tidak menyangka kalau anaknya yang ia didik dengan
baik sedari kecil nekat berbuat hal semacam ini. Lelaki paruhbaya itu hanya
bisa mengelus dada, matanya nanar dan berkaca-kaca. Kini ia hanya bisa pasrah
melihat Arman harus di geret ke kantor polisi.
Berita
tentang Arman sudah menyebar hingga ke telinga mbok Inah, ibu Arman. Kedua pipi
mbok Inah tak henti-hentinya dihujani air mata. Ia sudah tidak sanggup lagi
menahan kesedihan, sudah dua kali ia jatuh pingsan. Untunglah
kerabat-kerabatnya datang untuk menenangkan hati mbok Inah.
“istigfar
nah…” kata salah seorang kerabat sambil berusaha membangunkan mbok Inah dari
pingsanya.
“ini,
minum dulu!” pak Isman memberikan segelas air putih kepada istrinya setelah ia
bangun dari pingsan.
“yang
sabar ya mbak, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin ini cobaan dari Allah” kata
Martini, adik ipar Inah. Tangannya mengelus-elus punggung kakak iparnya itu,
sedangkan kerabat lainya memijat kedua kaki mbok Inah.
“beruntunglah
aku, masih punya saudara seperti kalian. Terima kasih” kata Inah dalam isaknya.
Keesokan
harinya pak Isman, mbok Inah, dan Karmin pergi ke kantor polisi untuk menjenguk
Arman. Sesampainya di dalam kantor polisi, mbok Inah, pak Isman, dan Karmin duduk di sebuah kursi panjang
menunggu kedatangan Arman. Mereka tak saling bicara, tiba-tiba Karmin berdiri,
tangannya mengepal, amarahnya meluap-luap ketika melihat Arman berjalan
menunduk menghampiri orangtua dan saudaranya itu. Pak Isman yang menyadari
perubahan ekspresi Karmin langsung mencekal tangan kiri Karmin supaya dia tidak
membuat kerusuhan di kantor polisi. ketiganya duduk saling berhadapan sedangkan
Karmin berdiri didekat mbok Inah, tanganya dilipat di depan dada. Mbok Inah
sudah tak bisa lagi membendung air matannya, isak tangis mbok inah mulai
terdengar lirih. Arman masih menundukan kepala tak sanggup melihat kedua
orangtuannya sedih karena kesalahannya.
“
Man, kenapa kamu nekat berbuat seperti ini? Kita memang miskin tapi bapak tidak
pernah mengajari kamu untuk mencuri” kata pak Isman.
“
kamu ini bisanya cuma bikin malu keluarga saja,” kata Arman dengan nada tinggi.
Karmin tak mengeluarkan sepatah katapun, dirinya masih menundukan kepala.
“kamu
lihat sekarang bapak sama simbok jadi sedih gara-gara kamu” tangan Karmin
mengangkat dagu Arman.
“
Mas, ini semua juga gara-gara koe.
Seharusnya mas juga malu. Mas nggak pernah ngerasain gimana susahnya cari duit kan?”
sindir Arman sambil menampel tangan kakaknya. Perang saudara seperti ini sudah
biasa terjadi antara Karmin dan Arman.
“maksut
kamu apa man?” Tanya mbok Inah sembari menghapus air matanya.
“
gara-gara mas karmin minta motor sama bapak, bapak jadi kelilit utang sama
rentenir. Arman sudah nggak sanggup lagi melihat bapak selalu di maki-maki sama
penangih utang itu mbok. Sebenarnya niat Arman cuma ingin bantu bapak mbok”
jelas Arman.
“tapi
bukan begini carannya” kata pak Isman
“
maafkan Arman pak, mbok. Arman salah. Pikiran Arman waktu itu terlalu dangkal,
maafkan Arman pak, mbok” Arman membungkukan tubuhnya, mencium tangan pak Isman
dan mbok Inah, air matanya mengalir membasahi tangan kedua orang tuanya itu.
mbok Inah mengelus-elus punggung Arman. Karmin terpaku mendengar penjelasan
adiknya.
SELESAI
Magelang, 02
Maret 2016
Cerita yang bagus, lengkap, tersimpan rapi dan baru dibuka di endingnya. Sayang penulisannya kacau. Penggunaan tanda baca dialog, huruf kapital, kata sapaan. Yang lebih parah, Anda tidak teliti sehingga ada ketidakkonsistenan dalam cerita --> “ kamu ini bisanya cuma bikin malu keluarga saja,” kata Arman dengan nada tinggi. Karmin tak mengeluarkan sepatah katapun, dirinya masih menundukan kepala.
BalasHapusPenggunaan paragraf, rasanya juga perlu diperbaiki! Tolong buka, masternya, diperbaiki dan diunggah lagi. Suatu saat bisa diikutkan lomba!
BalasHapus